Showing posts with label Investment. Show all posts
Showing posts with label Investment. Show all posts

Monday, April 14, 2008

Sejarah Credit Union di Kalimantan Barat

Inisiatif Perlawanan Lokal

Menyoroti keadaan bangsa Indonesia sekarang ini terutama bagi kaum miskin di Indonesia, kehidupan ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia berada dibawah standar dunia dengan pendapatan perkapita dibawah $1 per hari. Memang tidak dipungkiri ada banyak juga yang berpendapatan lebih dari itu namun jika dibandingkan dengan pendapatan masyarakat Indonesia pada umumnya, mereka hanya sekian persen nya dari penduduk Indonesia yang hidup nyaman sebagian besarnya susah.

Hari berganti hari, matahari selalu setiap hari melintasi kepala namun sebagian besar masyarakat Indonesia belum menemukan solusi terbaik bagi menyelesaikan krisi yang multi dimensi ini. Apa lagi yang mau diharapkan dari pemerintah? Semua nonsen, hukum, undang-undang, slogan yang indah-indah, semuanya palsu. Pemerintah hanya menumbuhkan iklim investasi sekala besar dan menutup mata untuk iklim investasi skala kecil dan mikro. Terbukti dengan makin berkembangnya bank-bank yang mengharapkan kucuran dana dari pemerintah sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat namun dalam kenyataannya sulit bagi masyarakat kecil untuk mendapat akses disana. Kapitalis telah merenggut segalanya dari diri kita. Tanah, air, udara sudah mereka miliki bahkan jiwa raga kitapun dibeli olehnya. Tidak sedikit para wanita yang raganya terbeli oleh karena kemiskinan. Banyak anak-anak menderita kurang gizi juga karena kapitalisme. Iklim investasi di Indonesia benar-benar milik kapitalis yang didukung oleh pemerintah dan aparat. CU tumbuh dan berkembang secara swadayapun mau dihancurkan pemerintah lewat berbagai jeratan undang-undang dan peraturan daerah. Nampaknya pemerintah Indonesia tidak senang dan tidak ingin rakyatnya aman sentosa dan sejahtera. Mereka mau melihat rakyatnya miskin dan menderita agar semakin banyak kuli-kuli yang dapat diperintah untuk kepentingannya. Melihat fenomena itu, ada baiknya kita melirik sedikit tentang kiprah CU dan bagainama masyarakat menjadi penentu bagi hidupnya sendiri.


Perjalanan CU Dari England Ke Kalimantan.

Credit Union (CU) atau Koperasi Kredit bukan barang baru lagi bagi masyarakat, CU justru sudah menjadi sebuah gerakan perekonomian rakyat yang terbukti mumpuni dalam membantu upaya keterpurukan masyarakat di Kalimantan Barat khususnya dan Kalimantan umumnya untuk dapat hidup layak. Gerakan CU di Kalimantan tersebut tersebut diinspirasikan oleh sejarah gerakan CU dunia.

Gerakan CU sebetulnya dimulai oleh para pekerja dan penenun Rochdale di England yang membentuk koperasi konsumtif secara demokratis pada tahun 1840. Kemudian pada tahun 1852 dan 1864, Hermann Schulze-Delitzsch and Friedrich Raiffeisen untuk pertaman kalinya mendirikan CU di Jerman. Ketika itu masyarakat Jerman dilanda krisis ekonomi akibat gagal panen. Kegagalan penen itu membuat para petani Jerman untuk mengadu nasib ke kota. Sebagian besar mereka bekerja sebagai kuli bagi kaum kaya dengan upah seadanya. Sebagian lagi membuka usaha dengan meminjamkan uang kepada kaum lintah darat atau rentenir.

Situasi dan kondisi petani Jerman yang demikian itu menggugah hati Friedrich Wilhelm Raiffeisen, Wali Kota Flammersfield. Karena itu, ia berusaha menghimpun dana dari para dermawan untuk menolong kaum miskin-melarat. Dana yang terkumpul dijadikannya sebagai modal usaha bagi kaum miskin-papa petani Jerman. Namun uang yang dibagikannya itu tidak pernah cukup karena penggunaannya tidak terkontrol. Raiffeisen kemudian mengumpulkan roti dari pabrik dan membagi-bagikannya kepada kaum melarat. Tetapi usaha ini pun gagal karena hanya menciptakan ketergantungan bagi kaum miskin.

Selanjutnya, Alphonse dan Dorimene Desjardins mulai mendirikan CU di LĂ©vis, Quebec pada tahun 1900-an. Tak lama setelah itu, Alphonse membantu Edward A. Filene dan Roy F. Bergengren mendirikan CU di Amerika. Kemudian, pada 17 Januari 1927, CU League of Massachusetts di Amerika Serikat merayakan hari libur pertama untuk anggota dan pekerja CU. Ditetapkannya tanggal 17 Januari tersebut karena hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Benjamin Franklin (1706-1790), yang dijuluki sebagai “the America’s Apostle of Thrift”. Para tokoh pioner CU Amerika juga meyakini bahwa Franklin adalah kehidupan dan ajaran ajaran yang terkandung di dalam semangat dan tujuan CU. Sebab itu, ketika F.D. Rosevelt menjadi presiden Amerika Serikat pada tahun 1934, CU mendapatkan legalitas perundang-undangan di Amerika.

Pada tahun 1948, CUNA (Credit Union National Association) Amerika Serikat menetapkan hari CU nasional yang baru, yakni pada hari Kamis ketiga bulan Oktober, yang pada tahun 2004 ini Kamis ketiga Oktober jatuh pada tanggal 21.

Dalam perjalanan selanjutnya, gabungan CU di USA membentuk Biro Pengembangan CU sedunia. Lalu, pada tahun 1971 Biro Pengembangan CU itu diresmikan menjadi Dewan CU sedunia, yang disebut World Cuncil of Credit Unions (WOCCU), yang berkantor pusat di Madison, Wisconsin – USA. Kini, yang tergabung di WOCCU ada 36. 901 CU, yang tersebar di 93 negara. CU-CU tersebut melayani lebih dari 112 juta anggota.

Salah satu CU yang sukses di dunia adalah CU ULGOR di Spanyol Utara. Dalam sejarahnya, CU ULGOR didirikan oleh Pastor Don Jose Maria Arizmendiarreta SJ bersama lima pemuda mendirikan CU di Mondragon, Spanyol Utara, tahun 1954. Kala itu di Mondragon angka pengangguran sangat tinggi dan tingkat pendidikan masyarakat sangat buruk. Masyarakat juga tidak memiliki cita-cita positif mengenai masa depan. Asset yang sedikit di derah itu menjadi rebutan rakyat. Lagi pula, sejak ratusan tahun daerah Mondragon merupakan daerah yang tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Atas dasar itu, Pastor Don Jose pun membuka sekolah magang industri. Di sekolah ini ia mengajar mengenai etika bagi pemuda yang hendak membuka usaha sendiri. Tapi sekolah tersebut justru membuat angka pengangguran semakin tinggi, hingga mencapai 20 % pada awal tahun 1950-an.

Tetapi Pastor Don Jose tak patah arang. Pada tahun 1955 ia pun mengundang lima pemuda, mantan muridnya untuk meminjam dana dari masyarakat. Mereka pun berhasil mengumpulkan dana sebesar $361.640. Dengan uang itu mereka membeli sebuah perusahaan pemanas minyak tanah Aladdin. Koperasi tersebut mereka namakan ULGOR. Dengan begitu, gerakan CU di Spanyol pun mulai berkembang.

Dalam perkembangannya, tahun 1956, ULGOR mempekerjakan 24 orang, tahun 1958 149 karyawan. Pada awal 1990-an, kompleks ULGOR telah mampu menampung 21.241 pegawai, yang juga sebagai anggotanya; memiliki seratus lebih usaha dengan nilai assets $ 2,6 milyar atau setara dengan Rp 7,8 triliun dengan kurs Rp 3.000/USD.


Gerakan koperasi kredit di Indonesia dan Kalbar

Di Indonesia, pada tahun 1955 sebetulnya sudah ada beberapa koperasi simpan pinjam. Namun WOCCU secara resmi diundang ke Indonesia baru pada tahun 1967. Kala itu, utusan WOCCU yang datang ke Indonesia memperkenalkan gagasan CU adalah Mr. A.A. Bailei. Kedatangan Bailei itu ditindaklanjuti dengan pendirian CU Counselling Office (CUCO) di Jakarta oleh Br. K. Albrecth Karim Arbei SJ. CUCO ini antara lain berfungsi memberikan konsultasi, menyediakan bahan dan program pelatihan, menyelenggarakan kursus-kursus, menyebarkan informasi serta merintis Badan Koordinasi Koperasi Kredit.

Selanjutnya, insan koperasi kredit Indonesia mengadakan Konferensi Nasional Kopdit di Ambarawa, Jawa Tengah tahun 1976. Pada Konferensi Nasional tahun 1981 terbentuklah Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I). Robby Tulus terpilih sebagai ketuanya.

Gerakan koperasi kredit atau CU akhirnya sampai pula ke Kalbar. Kadatangan CU ke Kalbar ini bermula dari kursus dasar Kopdit di Nyarumkop dan Sanggau, yang diselenggarakan oleh BK3I pada tahun 1975. Dari itu kemudian berdirilah CU Lantang Tipo di Bodok, CU di Batang Tarang dan di Kuala Dua. Tetapi ketiga CU tersebut berkembang sangat lamban sehingga diadakanlah kursus dasar di Pontianak pada tahun 1985 atas prakarsa PSE Keuskupan Agung Pontianak (KA Pontianak) kala itu dimotori oleh Pius Alfred dengan menghadirkan fasilitator H. Woerwanto dan Th Trisna Ansali dari BK3I. Kursus dasar kali ini melahirkan CU Khatulistiwa Bhakti (KB) Pontianak. Kala itu CU KB dijadikan sebagai Kopdit laboratorium atau tempat belajar.

Seiring perjalanan waktu, CU KB terus berkembang. Pelatihan-pelatihan yang diprakarsai oleh Delsos (PSE sekarang) menumbuhkan 5 CU lainnya di Kalbar termasuk CU Pancur Kasih yang ditumbuhkan oleh Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih. Maka terbentuklah BK3D Kalbar yang diketuai oleh AR. Mecer masa kerja 1988 – 1990 dan diresmikan pada tanggal 28 November 1988 yang didahului dengan rapat koordinasi di Delsos KA Pontianak. BK3D Kalbar terbentuk sebagai wadah koordinasi CU-CU di Kalbar.

Dibawah pimpinan AR. Mecer BK3D Kalbar saat itu mengalami perkembangan sangat pesat. Pada masa perkembangan berikutnya AR. Mecer digantikan oleh Pius Alfred. Di bawah pimpinan Pius Alfred, kegiatan BK3D Kalbar mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan karena KA Pontianak tidak mendukung, bahkan meminta kegiatan CU tidak menggunakan fasilitas Gereja. Hal lain adalah waktu ketua BK3D waktu itu banyak tersita oleh proyek lain hingga tidak fokus untuk CU. Dengan berakhirnya masa jabatan Pius Alfred, ketua berikutnya dijabat lagi oleh AR. Mecer hingga sekarang.

Kini, CU semakin berkembang pesat di Kalbar, bahkan menjadi trend di Kalimantan. CU-CU tersebut berada di bawah naungan BK3D Kalimantan (dulu BK3D Kalbar). Menurut data Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalimantan, hingga Juni 2004, CU yang bernaung di bawah BK3D Kalimantan sudah 40 CU; anggota 109.704; dengan total asset Rp. 318.639.668.422. Jumlah ini tidak termasuk CU Pansurat di Bengkayang, CU Berkat Usaha di Baram (Kec. Simpang Hulu), CU Arus Laur di Sepotong (Kec. Aur Kuning).

Ketiga CU tersebut sedang menjalani skorsing (dikeluarkan) dari keanggotaan BK3D Kalimantan untuk tahun buku 2004. Mereka diskor karena antara lain tidak tertib administrasi, tidak tertib organisasi, tidak tertib manajemen dan tidak tertib keuangan.


Di Kalimantan

Di ruang tunggu CU Pancur Kasih seorang anggota yang hendak berkonsultasi terdengar sangat bersemangat saat menceritakan pengalamannya ke satu daearah di Kabupaten Sanggau beberapa bulan lalu. Anggota CU Pancur Kasih yang bernama Yosef Oentarto itu mengungkapkan, “Di Bodok ada fenomena menarik. Orang-orang yang dulunya menjadi nasabah setia satu bank, sekarang banyak melirik CU, bahkan ada yang telah pindah ke CU,” kata seorang perwira AIRUD yang telah tujuh tahun menjadi anggota CU itu.

Oentarto bahkan mengamati transaksi di beberapa bank di Kota Sanggau terkadang sepi, karena masyarakat lebih memilih CU. Alasannya, untuk pembiayaan sebuah usaha, CU memberikan syarat yang tidak terlalu memberatkan, hanya saling percaya saja. Seperti semboyan CU “kamu Susah Saya Bantu, Saya Susah Kamu Bantu” para anggota CU tidak perlu menitipkan sertifikat tanah atau rumahnya untuk meminjam dari CU.

Pengalaman Zuhaimi salah seorang simpatisan CU di Pontianak, membeberkan pengalamannya mengajukan pinjaman ke sebuah bank untuk pengembangan usaha Kopra. Syaratnya sangat memberatkan dan bunga yang dibebankan kepada peminjam sangat besar. “Jadi saya mengurungkan niat saya sementara ini,” katanya.

Zuhaimi secara eksplisit mengungkapkan ketertarikannya terhadap lembaga keuangan micro seperti CU, “Saya telah banyak mendengar dari beberapa rekan saya terutama di daerah Sei. Kakap, menjadi anggota CU telah banyak menolong mereka,” katanya.

Di bank para calon kreditur diharuskan 'menitipkan' surat-surat berharga yang dapat menjamin kredit yang mereka ajukan pada bank. Namun banyak diantara mereka yang menunda keinginannya karena bank tidak bersedia mengucurkan dana jika syarat yang diberikan belum terpenuhi.

Seperti Zuhaimi, permasalahan utama dalam membuka usaha pada masyarakat adalah keberadaan modal yang terbatas. Banyak diantara masyarakat yang tidak jadi membuka usaha karena tidak memiliki modal. Di sisi lain, modal dari bank sangat sulit untuk didapatkan. Ini disebabkan oleh permintaan bank untuk menyediakan anggunan berupa sertifikat-sertifikat jasa dirasakan cukup memberatkan. Ditambah lagi dengan bunga yang cukup tinggi, sehingga beban untuk membayar kembali kredit yang diberikan terasa sangat berat.

Sistem yang terjadi saat ini memang menjadi kendala utama bagi masyarakat untuk mengembangkan usahannya. Sumber-sumber pembiayaan ekonomi macro seperti bank yang diketahui lebih memihak usaha-usaha berskala besar dan bersifat kapitalistis, terkadang memandang “sebelah mata” usaha kecil.

Belajar dari pengalaman, krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 yang dampaknya masih terasa dengan belum stabilnya perekonomian Indonesia hingga saat ini, justru yang mampu bertahan adalah sector usaha kecil. Berbagai jenis usaha kecil yang mengandalkan diri pada permodalan dari koperasi dapat selamat dari badai dahsyat krisis ekonomi.

Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Dosen Fak. Ekonomi Untan mengungkapkan keberadaan CU di Kalbar telah teruji tidak terkena dampak krisis moneter, tidak seperti yang dialami oleh lembaga-lembaga keuangan lainnya. Bahkan tidak dapat disangkal lagi bahwa keberadaan CU yang semakin eksis dan kokoh justru pada saat terjadinya krisis ekonomi.

Menurut Ansel Urep, yang menjadikan CU tidak terpengaruh karena dampak krisis moneter ada beberapa hal. Antara lain, ketersediaan modal menjadi satu kekuatan yang sangat dibutuhkan. Maksudnya, CU dengan sangat meyakinkan mampu menghimpun dana masyarakat yang mengindikasikan besarnya kepercayaan terhadap lembaga CU, tidak seperti umumnya yang dilakukan oleh bank komersial lainnya, yaitu dengan meminjam modal dari pihak luar.

Memang selama ini faktanya system ekonomi nasional yang telah menggemukan kaum konglomerat yang menggunakan uang rakyat melalui bank yang mereka bangun sendiri untuk memonopoli semua sector usaha. Sistem ekonomi demikian begitu mudahnya mengesampingkan hak-hak ekonomi orang banyak dan lebih cenderung untuk tidak peduli dengan orang lain. Dengan latar belakang ini lahirlah sistem ekonomi koperasi yang menghendaki pembangunan ekonomi dengan sistem kekeluargaan.

Salah satu bentuk koperasi yang ada di Indonesia adalah koperasi kredit (Credit Union). Dengan menjadi anggota CU, masyarakat diajak untuk turut serta berpartisipasi dalam perekonomian. Artinya masyarakat tidak akan menjadi penonton dalam pembangunan ekonomi yang semakin cepat bergerak sekarang ini. Istilah 'ekonomi kerakyatan' pun dipakai untuk menunjukkan sistem perekonomian yang dikembangkan dengan berbasis pada masyarakat dan berasaskan kebersamaan. Ekonomi kerakyatan mementingkan kesejahteraan komunitas dan sekaligus kesejahteraan keluarga, sehingga tidak mengenal persaingan untuk saling mengalahkan. Istilah ekonomi kerakyatan ini sangat dekat sekali dengan istilah koperasi kredit (CU) yang berkembang begitu pesat di Kalimantan pada saat ini.

CU sebagai praktek nyata dari ekonomi kerakyatan memegang prinsip-prinsip keterbukaan, keadilan sosial dan belajar tidak membedakan pelayanan pada para anggotanya. Setiap anggota berhak atas pelayanan yang disediakan. Ini yang membedakan CU dengan lembaga keuangan lainnya.

Pemberdayaan kaum kecil-lemah-dan miskin dalam aspek ekonomi merupakan rangkaian kegiatan penyadaran dan motivasi. Dalam hal ini pendidikan menjadi bagian yang sangat penting. Sebuah CU dengan assets 1 Milyar Rupiah kemudian meminjamkan Rp 800 juta kepada anggotanya memiliki resiko kebangkrutan yang sangat besar bila kredit yang diberikan mengalami kemacetan. Namun dengan sebuah kepercayaan dimana sebelumnya setiap anggota telah diberikan pendidikan sehingga sadar bahwa mereka adalah pemilik, maka resiko itu dirasakan tidak terlalu membahayakan.

Di Kalimantan berdasarkan klasifikasi perkembangan asset dan anggota kekuatan rakyat itu menjelma dalam 38 buah CU yang tergabung dalam Badan Koordinasi Koperasi Kredit Kalimantan (BK3D) Kalimantan. Sesuai namanya BK3D Kalimantan CU anggotanya tersebar di seluruh Kalimantan.

Berdasarkan klasifikasi jumlah asset pada dua tahun lalu dan perkembangan anggota CU naungan BK3D Kalimantan, ada 10 CU terbesar. (1) CU Pancur Kasih di Pontianak Rp. 97.904.319.716; (2) CU Lantang Tipo di Bodok Rp. 58.752.973.922; (3) CU Daya Lestari di Samarinda Rp. 22.666.503.311; (4) CU Keling Kumang di Tapang Sambas (Sekadau) Rp. 19.919.329.700; (5) CU Sumber Rezeki di Teraju Rp. 13.831.562.395; (6) Usaha Kita di Sei Ayak Rp. 13.800.965.896; (7) CU Khatulistiwa Bakti di Pontianak Rp. 13.364.712.606; (8) CU Semarong di Sosok Rp. 11.334.415.310; (9) CU Tilung Jaya di Kapuas Hulu Rp. 9.559.704.745: dan (10) CU Canaga Antutn di Menyumbung Rp. 7.195.352.938.

Kelangsungan setiap CU tentu saja memiliki kekhasan tersendiri. CU Pancur Kasih misalnya, sejak berdiri 17 tahun lalu telah memiliki 9 Tempat Pelayanan. Tempat Pelayanan yang tersebar antara lain di Sungai Durian, Sungai Ambawang, Kayu Tanam, Aur Sampuk, Sahapm, Sidas, Darit, Raba, Toho, Sebadu dan Jelimpo dimaksudkan agar pelayanan kepada para anggota dapat lebih maksimal.

Pada usia 17 tahun, sebagai CU terbesar di Indonesia jumlah anggota menurut Newsletter JaTiku terbitan Oktober 2004, telah mencapai 26.800 orang dengan asset Rp. 97.904.319.716.

Dalam JaTiku juga diungkapkan, beberapa tahun yang lalu, hal itu di luar jangkauan pikiran. Kekuatan ekonomi rakyat yang coba dibangun dengan semangat koperasi secara utuh telah mengantarkan CU Pancur Kasih yang secara wajar patut dibanggakan.

Lain pula dengan CU Usaha Kita. CU yang beroperasi di Sungai Ayak, Kecamatan Belitang Hilir, Kabupaten Sanggau ini sejak September tahun 2000 telah menerapkan sistem Komputerisasi Foxpro 2.5. Pemanfaatan tehnologi tentu sangat membatu dalam mempermudah pekerjaan yang dilakuakan. Seluruh informasi yang berkaitan dengan CU dapat diolah dengan cepat sehingga anggota dapat mengetahui perkembangan CU setiap waktu.

CU Khatuliastiwa Bhakti yang merupakan CU pertama di Kalimantan Barat memiliki anggota dari berbagai etnis di Kalbar. Ini menunjukan bahwa CU bukan saja milik etnis tertentu, tetapi milik orang yang sadar akan manfaat CU bagi kehidupan mereka. Bahkan simpanan terbesar di CU Katulistiwa Bhakti yang berdiri tahun 1985 ini adalah orang dari luar etnis mayoritas anggota CU. Menurut data terakhir BK3D Kalimantan Juli 2004, mengenai asset CU Katulistiwa Bhakti telah mencapai Rp. 13.364.712.606.

Dari sepuluh “raksasa ekonomi rakyat” tersebut dua diantaranya yaitu CU Lantang Tipo dan CU Daya Lestari yang masih belum memiliki badan hukum. Walaupun belum memiliki badan hukum, CU Daya Lestari yang didirikan pada 4 Juli 2001 pada akhir Juli 2004 telah memiliki assets sebesar Rp. 22.666.503.311. Sementara CU Lantang Tipo sebagai salah satu CU terbesar memiliki asset per-Juli 2004 Rp 58.752.973.922.

Tidak ada perbedaan yang mencolok dari produk-produk yang dikeluarkan oleh masing-masing CU. Tetapi komitmen dan keinginan anggota untuk maju menjadi kekuatan dari CU untuk lebih berkembang. Pada saat ini terdapat 38 CU yang difasilitasi BK3D Kalimantan yang tersebar di pulau Kalimantan. Total assets yang dimiliki oleh 38 CU tersebut pada bulan Juli 2004 adalah sebesar Rp 318.639.668.422. Sedangkan total kredit yang disalurkan adalah sebesar Rp 264.237.631.383 dan menurut data BK3D Kalimantan Juli 2004 SHU yang dibagikan adalah sebesar Rp.6.090.226.120.


Apa Kata Mereka Tentang CU?

Perkembangan CU di Kalimantan yang kian hari semakin dahsyat itu membuat Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalimantan harus menjadikan CU sebagai pilihan untuk mengembangkan ekonomi rakyat di Kalimantan, khususnya Kalbar. Pertimbangannya, kata AR. Mecer mengutif pendapat Rober T. Kiyosaki, uang itu bukanlah segala-galanya. Tetapi bisa menjadi alat untuk banyak hal. Uang itu hanya gagasan, sebuah ide. Jadi uang itu tidak riil. Karenanya gagasan itu bisa melayang di mana-mana. "Kenyataannya, uang itu ada di mana-mana: tanah, air, batu, pasir, rumput, bahkan kotoran ternak. Saya setuju bahwa uang adalah gagasan atau ide," ujar Mecer Ketua Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Kalbar.

Tetapi, kata Mecer, mengapa mayoritas orang tidak punya uang? Tetapi manusia bisa mengerjakan apapun -- walaupun hasilnya kecil. "Itu berarti bahwa kita bisa mendapatkan uang dengan alat," papar Mecer.

Lebih lanjut dikatakannya, kadang-kadang orang tidak menyadari bahwa untuk menangkap uang itu perlu alat. "Salah satu dari alat itu adalah CU. Uang itu kembalikan ke CU supaya bisa dikendalikan. Uang juga perlu dikelola dengan baik. Alat untuk mengolah uang itu adalah CU. dari situ, kapan dan apa saja yang diperlukan bisa menggunakan CU," katanya lagi.

Pendapat lain dilontarkan oleh Silvester Ansel Urep, SE, MSc. Ia menilai CU telah terbukti berhasil menjadi pelopor dan mampu menumbuh kembangkan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat di Kalbar, khususnya masyarakat pedalaman. "CU juga telah terbukti mampu berperan sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi pedesaan yang merupakan basis ekonomi kerakyatan," tandas Dosen Fakultas Ekonomi dan Program Magister Manajemen Untan.

Menurut Ansel yang juga menjadi Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Dayak Untan, CU sangat tepat dijadikan pilihan dalam pengembangan ekonomi rakyat. Pasalnya, CU itu sangat berbeda dengan lembaga keuangan lainnya. Kalau CU ada kemudahan yang diberikan kepada anggotanya dalam mengakses dana yang dibutuhkan untuk membiayai berbagai aktivitas ekonomi yang produktif. "CU bukan hanya melayani masyarakat yang ada di daerah perkotaan tapi telah merambah di daerah-daerah pedesaan. CU juga mempunyai kepedulian yang sangat tinggi terhadap nasib kelompok masyarakat masih terbelakang, yaitu dengan memberikan peran yang lebih besar kepada masyarakat dalam mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi," katanya.

Alasan lain mengapa CU menjadi pilihan dalam pengembangan perekonomian rakyat diungkapkan Munaldus dari Pengembangan Ekonomi Kerakyatan Pancur Kasih. Sejak berdiri di Jerman pada pertengahan abad 19, CU telah terbukti berhasil memecahkan masalah kemiskinan dan bencana kelaparan di seluruh dunia. Kini CU memiliki jaringan kerja yang sangat kuat dan solid dengan 5 jenjang Gerakan Koperasi Kredit Dunia (GKKD), yakni (1) CU Primer, (2) Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D), (3) Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) yang berpusat di Jakarta, (3) Asian Confederation of Credit Union (ACCU) yang berpusat di Bangkok, (4) World Council of Credit Union (WOCCU) di berpusat di Medison, USA.

Disamping itu, kata Munaldus, keberpihakan CU kepada masyarakat ekonomi lemah tidak diragukan lagi. "Di Kalimantan, khusus Kalbar, CU telah terbukti mengangkat harkat, martabat dan perekonomian para anggotanya," ujarnya.

Ungkapan senada disampaikan P. Florus, salah seorang penggagas berdirinya CU Pancur Kasih Pontianak. Menurutnya, CU adalah pilihan utama dalam penghimpunan modal (CU sebagai lembaga keuangan). Di satu sisi, CU bukan hanya sebagai lembaga keuangan yang menata modal ekonomi rakyat tapi juga dapat mengatur tata kuasa sumber daya alam dan tata produksi. “Di Kalbar, CU tetap akan berkembang dan terus menjadi pendorong utama gerakan ekonomi kerakyatan”, tuturnya optimis.

Keuntungan ber-CU diakui oleh Y.B.E Setiawan anggota CU Katulistiwa Bhakti yang sebelumnya sangat pesimis dengan gerakan CU atau koperasi umumnya. Seorang pemilik usaha Pangkalan Minyak Tanah berkat modal dari CU dengan keuntungan Rp. 3.750.000,- perbulan ini mengakui betul-betul terbantu dengan pinjaman dari CU.

Keuntungan ber-CU juga diakui oleh Valentinus Darus (baca profil sukses ber-CU), pemilik armada bis VALENTY. Ia pertama kali pinjam di CU Pancur Kasih Pontianak sebesar Rp 4 juta, dengan simpanan sebesar Rp 1,5 juta. Dengan menjadi anggota CU ia bisa memiliki 20 armada bis VALENTY. Devidennya pada tahun 2002 mencapai Rp 35 juta sehingga menjadi peraih deviden terbesar ke-2 di CU Pancur Kasih Pontianak. Kini rata-rata pendapatannya perbulan mencapai Rp 50 juta.

Karena itu pula, menurut hemat Mgr. Hieronimus Bumbun OFM. Cap, Uskup Agung Pontianak, akan lebih baik jika masyarakat bisa masuk CU. Sebab hanya CU yang bisa mendidik orang dalam merencanakan masa depan. Dengan masuk CU, orang bisa belajar menanbung, pandai mengelola ekonomi rumah tangga dan bisa menyekolahkan anak.


CU Beda Dengan Lembaga Keuangan Lain

CU memang berbeda dengan lembaga keuangan lainnya seperti bank, kelompok arisan, dll. Di dalam CU ada keunikan dan keistimewaannya. Hal ini ditegaskan oleh AR. Mecer, Ketua BK3D Kalimantan. Keunikan dan keistimewaan CU itu antara lain ada nilai-nilai solidaritas, keadilan -- dalam arti akurat dalam membagi keuntungan, sesuai dengan yang ditabur dan dituai, ada kesetaraan jender. CU bisa membantu diri sendiri, tetapi harus bertanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain. Swadaya juga mutlak dipupuk dan ditumbuh-kembangkan. Karena itulah CU sangat cocok untuk pemberdayaan ekonomi rakyat. "Jadi sebenarnya, CU tidak hanya cocok di Kalimantan, tetapi juga di seluruh dunia," tandas sesepuh Pancur Kasih itu.

Sesuatu yang unik dan istimewa di CU juga diungkapkan Silvester Ansel Urep, SE, MSc, Dosen Fak. Ekonomi Untan. Menurutnya, keunikan dan keistimewaan CU dibanding dengan badan keuangan lainnya antara lain, setiap anggota bisa meminjam 3 kali lipat dari jumlah tabungan yang sudah mengendap di CU. Apabila anggota akan meminjam, tidak diperlukan jaminan khusus, tetapi cukup hanya menyerahkan buku tabungan. CU juga menawarkan suatu produk simpan pinjam dengan pola kemitraan.

Dikatakannya juga, keberadaan CU di Kalbar telah teruji tidak terkena dampak krisis moneter, tidak seperti yang dialami oleh lembaga-lembaga keuangan lainnya. Bahkan tidak dapat disangkal lagi bahwa keberadaan CU yang semakin eksis dan kokoh justru pada saat terjadinya krisis ekonomi.

Menurut Ansel Urep, yang menjadikan CU tidak terpengaruh karena dampak krisis moneter ada beberapa hal. Antara lain, ketersediaan modal menjadi satu kekuatan yang sangat dibutuhkan. Maksudnya, CU dengan sangat meyakinkan mampu menghimpun dana masyarakat yang mengindikasikan besarnya kepercayaan terhadap lembaga CU, tidak seperti umumnya yang dilakukan oleh bank komersial lainnya, yaitu dengan meminjam modal dari pihak luar. CU juga memberikan suatu keuntungan bagi para anggota atas saham-saham yang dimiliki para anggota. Pengembalian kredit pinjaman anggota juga terbukti tetap berjalan lancar, hampir tada mengalami kemacetan.

Keunikan dan keistimewaan CU lainnya menurut Munaldus antara lain jantung CU terletak pada pendidikan yang menyadarkan. Karena motonya adalah CU dimulai dengan pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dikontrol melalui pendidikan dan bergantung pada pendidikan. "prinsip ini tidak ditemukan di lembaga keuangan lain dan ini menjadi keistimewaan utama CU," tegas Munaldus.

Melalui CU, tekan Munaldus, setiap anggota berjuang agar bebas secara finansial dengan memiliki sumber pendapatan ganda (SPG), yakni (1) memiliki pendapatan dari hasil keringat seperti gaji, upah, keuntungan bisnis dll. Uang datang hanya kalau orang bekerja; (2) memiliki pendapatan dari bunga tabungan atau deviden dari simpanan saham (uang bekerja untuk manusia); (3) memiliki pendapatan dari sektor realestate (memiliki tanah atau rumah baik untuk disewakan/dijual lagi setelah nilainya meningkat).

Jadi, ujar Munaldus mengingatkan, motivasi masuk CU bukan semata-mata untuk pinjam, tetapi bagaimana CU menjadi tempat berinvestasi. CU berusaha agar setiap anggota memiliki simpanan bagus (bunga/deviden di atas inflasi), bukan simpanan jelek (bunga/deviden di bawah inflasi). CU juga mendorong agar anggota memiliki pinjaman bagus (untuk usaha-usaha produktif) dan bukan semata-mata untuk pinjuaman yang jelek (untuk tujuan konsumtif).

Semuanya itu, kata Munaldus karena CU punya filosofi yang dijabarkan dalam 3 pilar CU yang telah diterapkan dan diamalkan secara turun-temurun, yakni (1) pendidikan yang terus menerus dan menyadarkan, (2) swadaya dan (3) setia kawan. Keswadayaannya berbunyi: "dari anggota, oleh anggota dan untuk anggota." Sedangkan setia kawan berbunyi: "anda sulit saya bantu, saya sulit anda bantu."

Diingatkan Munaldus juga, kalau sebuah CU melenceng dari yang digariskan, maka ia akan sangsut (kacau-balau-Red), akan dilindas dampak krisis moneter. Sebab itu ia menduga tidak semua CU bebas dari dampak krisis moneter. Sekarang juga ada beberapa CU yang sangsut dan sedang direhab serta dibenahi. CU yang tahan terhadap krisis moneter adalah CU yang memiliki "jantung" yang sehat, yaitu pendidikan kepada anggota berjalan baik. Kriteria pendidikan yang berjalan baik adalah para anggota, pengurus, pengawas dan staf (1) memiliki sikap/perilaku yang dapat dijadikan contoh/teladan, (2) menambah pengetahuan dan (3) meningkatkan ketrampilan.

P. Florus menilai bahwa CU beda dengan bank. Ada 3 komponen utama yang membedakan CU dan bank. Pertama, CU lebih mengutamakan manusia (modal sosial), sedangkan bank hanya mengutamakan uang (modal ekonomi). Kedua, CU sebagai praksis ekonomi kerakyatan sedangkan bank kapitalisme. Ketiga, CU sebagai koperasi sejati, sedangkan bank adalah pedagang uang sejati.

Menurut P. Florus, kekuatan CU terletak pada aspek pendidikan dan pelatihan para anggota. Pendidikan yang diutamakan sifatnya adalah penyadaran dan andragogis. Selain itu, C.U mempunyai kekuatan pada aspek teguhnya nilai-nilai dasar yang sebenarnya merupakan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Namun CU juga punya kelemahan. “Di satu sisi, tidak dipungkiri CU juga mempunyai kelemahan, yakni manajemen masih sederhana dan lambat serta belum menjadi gerakan sosial yang besar,” katanya.

Dikatakannya juga, filosofi CU yakni menolong diri sendiri dengan kerjasama, solidaritas, saling percaya, pembelajaran dan secara swadaya/mandiri. “CU punya prinsip bahwa uang hanya sebagai alat, yang terpenting adalah manusianya. Kalau manusianya sudah tidak memegang teguh nilai dasar kemanusiaannya maka saat itu juga CU akan kolap,” ujar Florus.

Pada akhirnya, Mohamad Hatta mengatakan: “Kolonialisme secara pemerintah jajahan sudah lenyap, sudah kita runtuhkan. Tetapi kapitalisme kolonial sebagai suatu kekuasaan organisasi ekonomi masih kuat duduknya. Kekuasaan itu hanya dapat dipatahkan dengan membangun perekonomian rakyat di atas dasar koperasi. Koperasi harus menjadi organisasi yang kuat karena sifat persekutuannya.”


Kiat-kiat Mendirikan CU

Kebutuhan akan CU yang dirasakan oleh kelompok orang yang juga bertekad untuk menolong diri sendiri dengan usaha bersama.

Kemungkinan yang cukup luas untuk memperkembangan jumlah anggota. CU sebaiknya dimulai dengan minimal 25 orang. Tetapi kalau para calon anggota sungguh-sungguh berhasrat besar untuk mendirikannya, jumlah kurang dari 25 orang bias juga. Namun keanggotaan harus bisa berkembang, oleh karena manfaat CU baru bisa dirasakan setelah keanggotaanya mencapai jumlah diatas 50 orang. Sudah tentu manfaat ini selalu bergantung juga pada keadaan ekonomi dan kemampuan menabung para anggotanya.

CU adalah suatu ikatan pemersatu. Kemauan bertekad mendirikan CU itu sudah merupakan ikatan yang mempersatukan kelompok tersebut hingga mereka menjadi pendirinya. Meskipun setelah berdiri harus selalu ada unsur pemersatu, agar anggota-anggota bersama pimpinan memperjuangkan tujuan CU.

Orang yang siap menjadi pemimpin dan rela mengapdikan diri, baik waktu maupun tenaga agar CU tersebut dapat sukses. Dalam hal ini tidak diperlukan para ahli-ahli keuangan dan pembukuan yang terdidik.

Langkah selanjutnya adalah pendidikan bagi kaum anggota, dan secara lebih intensif terhadap para calon pemimpin.

Sesuai misinya untuk memberdayakan ekonomi rakyat, berdasarkan pengalaman diberbagai benua menunjukan bahwa CU yang paling berhasil adalah yang didirikan di kalangan masyarakat yang keadaan ekonominya belum kuat. Kebutuhan akan adanya lembaga keuangan seperti CU tidak dirasakan oleh orang kaya yang kelebihan uang, melainkan leh mereka yang belum kuat ekonominya, terutama sekali orang-orang miskin.

Di samping itu untuk mendirikan CU tidak diperlukan banyak uang, untuk mendirikan CU tidak diperlukan ahli hokum atau akuntan. Salah sekali anggapan sementara orang yang mengatakan CU baru akan berhasil kalau modal kerja terlebih dahulu disediakan oleh orang kaya. Pengalaman justru membuktikan sebaliknya. Hanya memulai secara sederhana diantara orang-orang yang membutuhkanya, maka CU dapat berkembang dengan lancar.

Beberapa langkah mendirikan CU adalah: pengumpulan bahan-bahan yang ada tentang CU misalnya: brosur-brosur, buku-buku, pamphlet, bulletin, majalah dan sebagainya. Membentuk kelompok study paling tidak 15 orang diantara peminat untuk mempelajari dengan teliti dasar-dasar CU, administrasi dan aspek-aspek lainya sehingga bahan-bahan CUdapat dipelajari dengan lebih intensif dan sungguh-sungguh. Dalam hal ada CU lain yang telah berkembang, maka dapat pula dilakukan magang untuk mempelajari dasar-dasar management CU atau cara pendiriannya. Setelah kelompok study telah cukup mempelajari CU dari berbagai sumber maupun magang, maka sudah dapat dimulai menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dengan mengambil contoh dari salah satu bahan yang didapat saat magang dan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi para calon anggota. Setelah itu, rapat anggota pertama dapat diselenggarakan, sekaligus dengan pemilihan Dewan Pemimpin.

Selain itu syarat-syarat menjadi anggota CU adalah: mampu berpartisipasi aktip dalam CU dan dapat memanfaatkan pelayanan-pelayanan yang diberikan CU. Bersedia mentaati peraturan-peraturan CU terutama untuk menabung terus-menerus. Yang lebih bersifat normative dan tak kalah pentingnya, mempunyai ikatan kepentingan yang sama , seperti anggota lain.

Keanggotaan CU terbuka bagi siapa saja yang memenuhi persyaratan. Tidak boleh ada diskriminasi, tidak boleh menjadi organisasi eksklusif tetapi harus merangkul, menolong sebanyak mungkin orang yang mungkin masuk kedalam ikatan pemersatu yang sama.

Keanggotaan CU dapat lebih dari satu orang dalam sebuah keluarga, karena keanggotaan adalah perorangan maka setiapmorang dalam sebuah keluarga dapat menjadi anggota CU. Tetapi hendaknya tujuan mereka bukannya untuk dapat mendapatkan pinjaman sebanyak mungkin. Kalau demikian kemungkinan besar dapat mengancam kestabilan keuangan keluarga.

Oleh karena itu, seorang yang ingin menjadi anggota CU harus mendapatkan pendidikan tentang dasar-dasar CU. Kemudian ia dapat mengajukan surat permohonan tertulis kepada Dewan Pimpinan. Permohonan itu perlu mendapat rekomendasi dari setidaknya dua anggota CU lainya atau seorang anggota Dewan Pimpinan.

Dewan Pimpinan akan memutuskan diterima atau tidaknya anggota tersebut berdasarkan suara terbanyak. Jika permohonan ditolak, calon anggota dapat naik banding kepada Rapat Anggota untuk meninjau kembali keputusan Dewan Pimpinan tersebut. Karena keanggotaan bersifat perorangan, maka keanggotaan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Setiap anggota yang ingin menjadi anggota harus mengajukan sendiri permohonan tertulis kepada CU.

Seseorang dapat berhenti menjadi anggota CU jika berhenti atas kemauan sendiri dan disetujui oleh Dewan Pimpinan. Anggota meninggal dunia. Dikeluarkan dari keanggotaan atas keputusan Rapat Anggota. CU bubar atau dibubarkan.

Sebagai anggota CU, setiap orang yang tergabung dalam wadah CU memiliki hak dan kewajiban. Hak seorang anggota CU adalah: Mendapat jasa-jasa dan pelayanan, terutama dalam bentuk pinjaman yang diberikan CU. Menghadiri rapat-rapat anggota dan ikut serta dalam segala kegiatan CU. Menabung dan menarik tabungan pada setiap waktu kantor CU dibuka. Memberikan suaranya dalam segala hal yang perlu diputuskan oleh anggota-anggota. Dipilih untuk setiap jabatan yang ada dalam CU.

Sedangkan kewajiban sebagai anggota CU adalah: Ikut secara aktif dalam rapat anggota, baik tahunan maupun khusus. Menabung secara terus-menerus dan mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya. Menjaga agar hanya orang-orang baik dan cakap dipilih sebagai pejabat-pejabat CU. Menjaga kepentingan dan nama baik CU dimata masyarakat. Berusaha untuk mengembangkan keanggotaan CU. Secara terus-menerus menambah pengetahuannya mengenai CU. Menanggung segala kewajiban CU yang tercantum dalam Anggaran Dasar.

CU di Kalimantan memang sudah tumbuh dan berkembang. Menurut data terakhir di BK3D Kalimantan, hingga November 2004 sudah terdapat 43 CU. CU-CU tersebut terseber merata di seluruh Kalimantan (Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Kaltim). Hingga Oktober 2004, anggota CU yang bernaung di bawah BK3D Kalimantan sudah mencapai 128.288 orang, dengan total asset Rp 393.673.951.740. Anggotanya pun terdiri dari berbagai golongan, etnis dan agama. Karena itu lah, CU merupakan salah satu wadah untuk rekonsiliasi di Kalimantan. Simpul Kalbar, April-Juli 2006 (Tony Kusmiran dan Team Kalimantan Review)

Risiko Investasi

3 RISIKO INVESTASI YANG PALING DITAKUTI


"Beranikah saya mengambil risiko dalam berinvestasi?" Pertanyaan ini mungkin sering terlontar bila Anda sedang menimbang-nimbang untuk melakukan investasi. Katakan Anda punya uang Rp 10 juta, dan Anda bingung apakah akan menaruhnya di bank atau di tempat lain. Kalau ditaruh di bank, Anda mungkin merasa aman. Tetapi kadang-kadang, tawaran investasi di tempat lain seringkali cukup besar dan sangat menggoda, sehingga ini kadang-kadang menakutkan Anda.

Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:

Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: "Apakah uang saya akan hilang?"

Oke, sekarang kalau Anda berinvestasi, seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 30 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah, itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang namanya kerugian, sesekali memang harus dialami. Kalau enggak mengalami, ya enggak belajar, kan?



Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Risiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang kertasnya robek, rusak atau kumal.

Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang Koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak selalu mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan buat orang yang menjualnya.

Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.



Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan kalau Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.

Iya dong, beberapa dari Anda mungkin menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.

Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin Anda belum tahu, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang. Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Tabloid NOVA No. 746/XIV

Persepuluhan dan persembahan

Setiap bisnis secara umum merefleksikan nilai dari prinsip-prinsip yang dipegang oleh pemiliknya atau manajernya. Dan refleksi nilai-nilai itulah yang menentukan apakan suatu bisnis itu diberi label Kristen atau non-Kristen. Jika suatu bisnis ditujukan untuk melayani Tuhan, bisnis itu harus mempunyai satu sasaran utama, yaitu memuliakan Tuhan. Salah satu dari fungsi mendasar suatu bisnis Kristen adalah mendanai pekerjaan Tuhan. Dan untuk maksud tersebut, banyak pemilik atau manajer bisnis Kristen yang memilih untuk memberikan persepuluhan dari hasil bisnisnya.
Prinsip dari persepuluhan dalam bisnis ini tidak berbeda secara dramatis dibandingkan dengan persepuluhan dari pendapatan pribadi. Sebenarnya, kebanyakan dari ayat Alkitab dalam perjanjian lama berhubungan dengan pemasukan yang didapat dari bisnis, karena mayoritas orang-orang dalam perjanjian lama bekerja di bidang agraris. Prinsip dari memberi perpuluhan dari bisnis sangat jelas dalam alkitab: "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu." (Amsal 3:9). Dalam perjanjian lama, orang-orang Ibrani membawa hampir 23% dari panghasilan mereka ke rumah penyimpanan Tuhan. Penjaga dari rumah penyimpanan itu, para orang Lewi, menggunakan apa yang sudah mereka berikan untuk para janda, orang-orang asing yang miskin dalam daerah itu, yatim piatu, dan orang-orang Lewi sendiri.

Dalam perjanjian baru, orang-orang tidak lagi membawa persepuluhan dan persembahan mereka ke rumah penyimpanan secara fisik. Tapi mereka memberikannya kepada gereja. Sebagai timbal baliknya, gereja menggunakan persepuluhan untuk mengabarkan injil. Persembahan dugunakan untuk dukungan administratif dan umum dari gereja, dan pemberian sukarela digunakan untuk orang-orang miskin, para janda, yatim piatu, serta orang-orang lain yang membutuhkan. Alkitab menyatakan secara tidak langsung bahwa tujuan dari memberi persepuluhan dan persembahan adalah untuk membuktikan atau menjadi kesaksian dari kepemilikan Tuhan, dan dengan demikian itu juga berlaku secara individual.

Tidak pernah dikatakan bahwa semua orang atau semua bisnis harus memberikan jumlah yang sama atau dengan cara yang sama, tapi masing-masing harus memberi dengan kerelaan dan sukacita (lihat 2Kor 9:6-7). Kita harus memberi dari hati kita, karena itu seharusnya pemberian tidak dipandang sebagai hukum tapi sebagai indikator dari ketaatan kita kepada hukum Tuhan. Hal ini dikonfirmasi dalam kitab Maleakhi, seorang nabi mengkonfrontasi kaum Yahudi tentang dosa mereka yang berupa ketidaktaatan, menggunakan kelalaian mereka untuk memberi sebagai contoh.

Memberi dari keuntungan kotor atau bersih?

Seorang pengkotbah dari abad 19 yang terkenal, Charles Spurgeon, mengatakan, "Dalam tahun-tahun saya melayani Tuhan, saya menemukan kebenaran yang tidak pernah gagal dan tidak pernah dikompromikan. Kebenaran itu adalah, tidak mungkin bagi seorangpun untuk mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Bahkan walaupun saya memberikan semua yang saya miliki kepadaNya, Dia pasti akan menemukan cara untuk mengembalikannya kepada saya bahkan berkali lipat melebihi dari apa yang sudah saya berikan." Karena mustahil untuk mengembalikan kepada Tuhan, maka hal tentang apakah bisnis harus memberi dari keuntungan kotor atau keuntungan bersih menjadi pokok pembicaraan kita. "Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu." (Mark 4:24).

Jika sebuah bisnis benar-benar meyakini dan mau menghormati Tuhan dari peningkatan yang Dia sediakan, maka bisnis itu harus mempertimbangkan untuk memberi dari keuntungan kotor dan percaya bahwa Tuhan akan menyediakan apa yang dibutuhkan setelah bisnis itu membayar semua kreditor dan biaya-biaya lain. Meskipun ada anjuran alkitabiah untuk memberi dari buah sulung, atau dari peningkatan bisnis itu, sebuah bisnis tidak seharusnya memberi dari bagian yang menjadi hak milik para kreditor ataupun karyawan. Pemberian bisnis seharusnya diambil dari keuntungan bisnis setelah biaya-biaya overhead, gaji para karyawan, dan kreditor dibayar. Setiap karyawan lalu memberi dari jumlah yang mereka terima sebagai gaji.

Pemberian Korporasi

Korporasi, tidak seperti bisnis, biasanya dimiliki oleh sekumpulan orang dari berbagai gaya hidup dan kepercayaan spiritual. Karena seseorang tidak memiliki seluruh saham dalam korporasi, orang tersebut harus mempertimbangkan memberi persepuluhan dari kenaikan nilai sahamnya sendiri dalam korporasi itu kepada Tuhan. Sebuah alternatif mungkin saja dengan misalnya menggunakan sepersepuluh dari saham korporasi dan mendirikan yayasan Kristen, lalu menentukan tujuan untuk mengendalikan pertumbuhan masa depan korporasi dan mengumumkan dividen untuk digunakan dalam pekerjaan Tuhan.

Kesimpulan

Baik individu maupun bisnis seharusnya lebih mencari cara untuk memberi, dibanding mencoba menemukan cara untuk menunda pemberian atau menyembunyikan apa yang seharusnya kita berikan. Ingatlah bahwa Tuhan lebih tertarik pada hati kita lebih dari besarnya jumlah pemberian kita. Ada anjuran dalam firmanNya untuk memberi dari buah sulung kita, atau kenaikannya. Ini dapat diaplikasikan baik secara perorangan ataupun bisnis. Bagaimanapun juga, pemilik bisnis harus memperhatikan bahwa pemberian bisnis harus hanya dari keuntungan yang menjadi milik bisnis itu sendiri, bukan dari apa yang seharusnya menjadi hak para kreditor, pemegang saham, karyawan, atau lainnya.


Sumber : cbn

Reksadana : alternatif investasi

Reksadana: Alternatif Investasi Pemodal Kecil

Punya dana yang agak terbatas tapi ingin merasakan gejolak pasar modal? Atau ingin kecipratan melonjaknya harga saham tanpa harus pusing memelototi angka dan nguping kiri-kanan? Cobalah reksa dana. "Celengan" baru ini menawarkan banyak keuntungan dan kemudahan. Tapi prinsip teliti sebelum membeli tetap harus dipegang.
Pusing memikirkan uang bukan dominasi mereka yang tak punya. Yang kelebihan uang ternyata juga pusing. Setidaknya itu dialami Mimi (35), ibu rumah tangga sekaligus wanita pekerja. Awal tahun ini ia memperoleh bonus lumayan besar. Demikian pula dengan suaminya. Tapi kelebihan uang itu justru memusingkan kepalanya. Rencananya mau membeli rumah. Apa daya ternyata tak cukup.Untuk sementara, kelebihan uang itu ditabung di sebuah bank swasta dengan bunga 13% per tahun. Tapi seperti pengakuannya, ia menjadi royal dalam berbelanja. Investasi emas, ia risi ketika harus menjualnya sewaktu memerlukan uang. Ketika ia mencoba memikirkan deposito, suaminya menawarkan kemungkinan memperbesar uang dengan membeli reksa dana. Dari beberapa brosur yang dibacanya, Mimi hampir merasa yakin ia bakal mengantungi lebih dari 17% dari hasil menanamkan uangnya di reksa dana. Bunga itu pun tak harus ditunggunya selama satu tahun seperti umumnya bunga yang diberikan bank.

"Perkawinan" manajer dengan bank
Reksa (= kumpul) dana atau istilah asingnya mutual fund sebenarnya bukanlah produk baru dalam bidang investasi. Seperti penuturan Tan Kok An, M.B.A., senior sssistant vice president Bank Danamon serta Frida Lidwina (23), fund executive Panin Securitas - penerbit reksa dana Panin Dana Optima dan Panin Dana Maksima, di Amerika jenis investasi ini sudah berusia lebih dari seabad. Tak heran kalau di sana investasi reksa dana tak ubahnya seperti tabungan saja. "Di Amerika sudah mengakar di masyarakat. Ibu-ibu rumah tangga pun investasi di mutual fund," kata Tan yang sempat kuliah di Amerika.

Prinsipnya, reksa dana adalah wadah yang mengumpulkan dana dari masyarakat untuk dikelola oleh manajer investasi dan diinvestasikan kembali ke pasar modal, seperti efek ekuitas (saham), efek berpendapatan tetap (obligasi), dan instrumen pasar uang (promes, wesel). Tujuannya tentu untuk memperoleh keuntungan lebih baik. Dana yang terkumpul tidak dipegang oleh manajer investasi, tapi disimpan dan diasuransikan oleh bank yang memperoleh izin dari Bapepam sebagai bank penjamin (kustodian).Sejak maraknya reksa dana tahun 1996, sekarang telah beredar sekitar 60-an reksa dana dalam masyarakat. Dalam UU Pasar Modal 1995 disebutkan ada dua bentuk reksa dana, yaitu perseroan atau tertutup (close-end & limited liability atau corporote type) dan kontrak investasi kolektif (KIK) atau terbuka (open-end atau contractual type). Perbedaan kedua bentuk itu terletak pada tingkat likuiditas (kemudahan diuangkan) dan apa yang dijual kepada investor.

Reksa dana tertutup menjual saham, yang terbuka menjual unit penyertaan (UP). Pada reksa dana tertutup likuiditasnya 100% tergantung pada likuiditas bursa efek tempat ia dicatatkan. Pada KIK, manajer investasi wajib membeli kembali bila investor ingin menguangkannya. Karena sifat-sifat itu, reksa dana terbuka lebih diminati. Sampai saat ini hanya ada satu reksa dana tertutup yaitu BDNI Reksa Dana. Itu pun rencananya akan diubah menjadi reksa dana terbuka.

Berdasarkan portofolionya ada empat macam reksa dana. Pertama, reksa dana fixed income (berpendapatan tetap). Di sini minimum 70% dana yang terkumpul diinvestasikan ke dalam instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi, dan instrumen pasar uang seperti CD (certificate of deposito), CP (commercial papers), MTN (medium term note), dll. Kedua, reksa dana saham. Pada jenis ini minimum 70% dana terkumpul dibiakkan dalam instrumen efek ekuitas (saham). Ketiga, reksa dana campuran. Dana yang terkumpul dibagi rata antara pendapatan tetap dan efek ekuitas. Keempat, reksa dana pasar uang; 100% dana terkumpul ditanamkan dalam instrumen pasar uang (seperti deposito).

Dalam bahasa Frida, antara manajer investasi dan bank kustodian terjadi "perkawinan", membentuk sebuah keluarga bernama reksa dana. Bapepam bertindak sebagai saksi, yang juga akan mengawasi selama keluarga itu masih akur. Layaknya sebuah perkawinan, bank kustodian tidak boleh berasal dari "keluarga" manajer investasi dalam arti bukan afiliasi atau grupnya. "Misalnya Panin Securitas tidak bisa menunjuk Bank Panin sebagai kustodiannya. Sama aja bo'ong," contoh Frida. Keluarga ini bisa bubar atas persetujuan Bapepam.

Di Indonesia jabang bayi reksa dana sudah lahir sejak 1977. PT (Persero) Danareksa yang membidani kelahirannya dalam bentuk unit trust. Masa itu PT Danareksa didirikan untuk memasyarakatkan kepemilikan saham dan bukti kepemilikan perusahaan lainnya (financial assets). Caranya, Danareksa menjadi perantara keuangan dengan menjembatani masa jatuh tempo, denominasi, dan pengurangan risiko melalui diversifikasi investasi. Sertifikat Danareksa bisa dibeli hampir di seluruh Indonesia melalui bank-bank pemerintah yang menjadi agennya. Kurs jual-belinya pun akrab di telinga kita karena dipublikasikan lewat corong RRI, biasanya setelah siaran berita pukul 20.00 WIB.

Kalau akhir-akhir ini reksa dana tumbuh pesat, itu karena dipupuk oleh iklim pasar modal yang kondusif serta ditunjang oleh Bapepam yang rajin mendorong perusahaan sekuritas yang memiliki izin sebagai manajer investasi untuk membuka reksa dana. Menteri Keuangan pun ikut mendorong menjamurnya reksa dana dengan mengeluarkan SK yang memperbolehkan Dana Pensiun menanamkan uangnya di reksa dana meski dengan batasan maksimal 10% dari seluruh dana investasi untuk sebuah reksa dana.

Sebagai sebuah bentuk investasi, reksa dana tentu menjanjikan keuntungan. Ada dua bentuk keuntungan yang bisa diraih, yakni berupa uang tunai (dividen) seperti pada Danareksa dan pertumbuhan aset jika nilai efek dalam portofolio reksa dana meningkat. Pertumbuhan aset ini menjadi salah satu keunggulan reksa dana dibandingkan dengan tabungan atau deposito yang hanya memberikan pendapatan berupa bunga. Pendapatan dari dividen bisa dicairkan (redeem) atau diinvestasikan kembali untuk membeli UP tambahan pada reksa dana tersebut.

Selain berbuah untung, reksa dana juga bisa rugi karena termasuk dalam investasi non fixed income. Jadi bukan seperti deposito dengan bayangan keuntungan yang sudah tercetak hitam di atas putih. Meski Bapepam mengharamkan janji keuntungan kepada pemodal, namun sah-sah saja kalau manajer investasi mematok suatu target keuntungan berdasarkan pengalamannya. "Jadi tidak bisa kita bilang, 'Eh, ikut reksa dana dong. Nanti dapat untung 50%.' Tidak bisa itu, tapi mungkin," kata Frida. Besar-kecilnya keuntungan investor sangat bergantung pada turun-naiknya nilai instrumen tempat reksa dana dibenamkan. Tapi soal bagaimana memainkan dana ke dalam pasar modal sepenuhnya tergantung pada manajer investasi. Investor tinggal ongkang-ongkang kaki sambil menunggu hasil.

Bagi investor tentu hal itu sangat menggoda. Investor tak perlu memelototi monitor dan menguping rumor serta menganalisis dan harus sport jantung, seperti yang terjadi pada investor saham. Investor akan semakin tergoda kalau tahu keuntungan reksa dana bukanlah objek pajak. Ini berbeda dengan deposito yang dikenai pajak 15%. Godaan lain, selain likuid dan dikelola oleh profesional, harganya relatif murah. Harga satu UP-nya Rp 1.000,- pada penawaran perdana. Setelah penawaran perdana, harga tersebut berubah sesuai dengan nilai aktiva bersih (NAB) yang merupakan nilai per-UP yang ditentukan berdasar rumus: total aktiva dikurangi total kewajiban, lalu dibagi jumlah UP yang terjual. Jadi bisa turun, bisa pula naik.
NAB itu mencerminkan nilai sebenarnya dari dana masyarakat pemodal yang ditanamkan dalam reksa dana pada satu periode, dan dihitung oleh bank kustodian untuk menjaga objektivitasnya. Hasilnya bisa dipantau pada surat kabar seperti Bisnis Indonesia atau Neraca Ekonomi

Sama seperti saham, pembelian reksa dana pun ada batasan minimalnya. Juga batasan maksimalnya, yakni 1% dari total UP yang ditawarkan. Dengan demikian tidak ada monopoli dalam kepemilikan UP. Bagi yang masih tertarik dengan reksa dana tersebut tapi kepemilikannya sudah 1%, "Ya, harus memakai nama orang lain. Atau mencari reksa dana lain," ujar Frida. Minimum kepemilikan reksa dana tidak ditentukan berdasarkan berapa persen UP yang harus dibeli, tapi berapa rupiah harus membeli. Beberapa reksa dana tidak mematok angka seragam. Ada yang sebesar Rp 250.000,-, "... seperti Panin Dana Maksima dan Panin Dana Optima dari Panin Sekuritas," ucap Frida. Namun ada juga yang Rp 500.000,-. Jika kinerja reksa dana tersebut bagus, Anda bisa menambah investasi. Target reksa dana memang pemodal retail.

Namun jangan keburu nafsu! Layaknya instrumen pasar modal lainnya, reksa dana rentan pula terhadap risiko (kerugian). Akan tetapi tidak seperti teman-temannya tadi, reksa dana mempunyai jurus untuk berkelit dari terkaman risiko. Ini karena sifatnya yang bisa didiversifikasikan portofolionya. Frida memberi contoh, "Panin Dana Maksima misalnya, yang termasuk reksa dana saham, bisa melakukan investasi di 30 saham yang berbeda dan beberapa bank dengan yield yang berbeda-beda." Otomatis risiko investasi satu bisa diimbangi oleh keuntungan investasi lainnya. "Dengan demikian, kalau saham mudah-mudahannya (tercapainya target - Red.) itu 25%, reksa dana bisa 30 - 35%. Ketidakpastian hasil ini harus dipahami oleh investor sebelum melakukan investasi dalam reksa dana," tambah Frida. Hantu" lain adalah risiko likuiditas yang timbul apabila secara serentak para pemodal melakukan penjualan kembali atau penebusan (panic selling). "Efeknya membuat NAB turun," papar Frida. Kalau NAB turun, keuntungan tentunya berkurang pula.

Dilihat dari harganya, reksa dana memang murah. Tapi jangan lupa dengan biaya lain yang harus diperhitungkan. Pertama, selling fee, yang dikenakan pada saat pembelian UP. Besarnya bervariasi antara 1 - 3%. Kemudian saat mau melikuidasi dikenai biaya redemption fee, yang besarnya bervariasi tergantung lama penyimpanan. Frida menegaskan, "Reksa dana ini bagus untuk investasi jangka panjang. Minimal enam bulan." Semakin lama investasinya semakin rendah redemption fee-nya. Masih ada biaya switching fee bagi yang ingin memindahkan jenis reksa dana ke dalam reksa dana lain yang masih dalam satu atap. Pada beberapa reksa dana biaya ini tidak ada.

Kenali diri sendiri
Reksa dana di negara-negara maju sudah sangat tua. Bank-bank besar umumnya memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang reksa dana. Dengan begitu catatan pengalaman mereka sudah panjang dan meyakinkan. Maka kalau bank tersebut membuka cabang di Jakarta dan membuka reksa dana, kita boleh merasa lebih aman.

Bagaimana dengan Indonesia?
Meski sudah lama, tapi reksa dana di Indonesia relatif baru berkembang. Karena itu, maraknya reksa dana di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian serius bagi calon investor. Fenomena booming di Indonesia tak bisa luput dari sikap latah. Ingat dengan kasus Pakto 1988 yang memberi iklim bagi menjamurnya bank-bank di Indonesia? Hasilnya bisa dilihat pada saat ini dengan banyaknya bank-bank bermasalah. Perilaku ini perlu mendapat perhatian investor.

Lepas dari fenomena menjamurnya reksa dana, sebelum memutuskan untuk bereksadanaria, calon investor patut mengenal diri sendiri. Apakah ia termasuk risk taker (berani menanggung risiko), netral, atau konservatif. Pengenalan ini erat kaitannya dengan produk reksa dana yang akan dibeli. Sejauh ini, investor tipe konservatif masih dominan dengan banyaknya produk reksa dana fixed income. Hal itu erat kaitannya dengan faktor risikonya yang relatif kecil. "Sejelek-jeleknya kinerja, tetap memperoleh kupon bunga," begitu kira-kira kilah mereka.

Dalam memilih reksa dana, Frida memberi saran. "Lihat dulu profil perusahaan. Kemudian pengalaman serta kredibilitas manajer investasi dan perusahaannya." Pertimbangan lain yang perlu diambil adalah kredibilitas serta bonafiditas lembaga pendukungnya. Perilaku manajer investasi dalam meraih target perlu pula diperhatikan. Apakah akan bermain dinamis atau konservatif? Sebelum meneken kontrak, harus mengerti benar apa yang terkandung dalam prospektus yang diberikan. Jangan malu bertanya, sebab transparansi dan perhatian sangat dijunjung tinggi dalam investasi ini. Sebagai investor, Anda bisa bertanya berapa NAB hari ini. Kalau di saham, jika Anda memiliki modal kecil, bisa jadi terabaikan.

Hati-hati pula dengan iklan-iklan reksa dana yang menampilkan grafik. Informasi itu kelihatannya manis. Padahal banyak informasi pahit di belakangnya yang juga perlu diketahui. Dari rubrik konsultasi di Tabloid KONTAN asuhan Hasan Zein Mahmud terungkap, banyak pertanyaan tentang reksa dana berkaitan dengan iklan yang ada di media cetak.

Jika sudah dipahami betul lika-liku di balik reksa dana, bolehlah kemudian berencana untuk membelinya. Caranya sangat gampang. Syaratnya pun tak bertele-tele; punya uang, kartu identitas diri, serta rekening di bank. Anda tinggal datang ke manajer investasi atau agennya, meminta formulir, dan mengirim sejumlah uang sebagai tanda pembelian ke nomor rekening bank kustodian. Bukti transfer, formulir yang telah diisi, serta fotokopi identitas diri kemudian diserahkan ke manajer investasi. Anda pun sudah memegang sejumlah UP dan tinggal menunggu berbiaknya dana. Selanjutnya Anda akan menerima laporan perkembangan tentang reksa dana dan informasi lain yang relevan. Untuk mengurangi risiko, sebarlah dana dalam beberapa reksa dana.

Lepas dari semua kekurangan yang ada saat ini, kalau dikelola oleh ahli-ahli yang profesional dan berpengalaman, reksa dana merupakan alternatif investasi yang menarik. Di reksa dana, modal kecil bersatu bersama dengan modal kecil lainnya sehingga menjadi besar. Dengan demikian sebaran investasinya pun bisa menjadi lebar sekali, sehingga kalau ditinjau dari risk bearing dan risk avoiding bisa dilakukan penyebaran risiko.


Nah, kecil itu selain indah ternyata bisa mengurangi risiko dan ... menguntungkan juga!

Saturday, March 15, 2008

Credit UNion

Credit union savings accounts
Credit unions are owned and run by their members, for their members. Membership depends on people having a common bond, for example:

living or working in a specific area;
belonging to the same housing association; or
belonging to the same trade union.
Credit unions aim to help you take control of your money by encouraging you to save what you can. Once you have a reliable record as a saver, you can apply to borrow money from them. They will let you borrow what you can afford to repay. Some credit unions offer Christmas savings accounts where you cannot take your money out before November without notice. So you won't be tempted to take it out, but you could be earning interest – so your money could grow.

A credit union may suit you if:

you don't want a bank account;
you want the flexibility to save what you can, when you can; or
you prefer a local, ethical co-operative.
.
.